Abstract:
Langkau adalah bangunan sentral masyarakat petani di Segedong, Desa
Peniti Dalam II, Kabupaten Mempawah, Indonesia untuk mengeringkan kelapa
menjadi kopra. Bangunan ini juga digunakan untuk mengeringkan biji pinang.
Mayoritas masyarakat di daerah ini adalah orang Bugis yang telah turun-temurun
dan hidup berdampingan dengan orang Melayu, Madura, dan Cina. Bahasa yang
digunakan sebagian besar adalah Melayu, bahasa Bugis hanya digunakan kalangan
orang tua yang membuat bahasa di daerah ini perlu dipublikasikan. Kelapa dan
Pinang adalah hasil bumi yang menjadi pemasok perekonomian masyarakat.
Langkau sebagai tempat untuk mengolah hasil kebun tersebut dibangun oleh orang
tertentu yang memahami petukangan masa lampau. Konstruksi langkau memiliki
identitas sendiri terutama dari bahasa tempatan. Baik dari kontruksi, ilmu
pengukuran, pemanfaatan, serta bahan alam yang digunakan seperti : Gelegar,
Bantal-bantal, Rasok, Lemat, Laci, Kasau, Alang Bujur, Alang Lintang, dan Cekak.
Bahasa tempatan ini perlu dikaji dari kata dan maknanya, untuk memperoleh data
tulisan digunakan penelitian kualitatif, dengan pendekatan sosiolinguistik. Teknik
pengumpulan data dengan wawancara, observasi, dan dokumentasi. Bahasa
pribumi ini perlu didokumentasikan mengingat sukar ditemukan tukang
pembangun langkau serta pengelola kopra dan pinang dengan cara tradisional.
Selain itu harga penjualan yang semakin surut membuat sektor ini sedikit peminat.