Abstract:
Arumi Samsudin, (12101196) “Analisis Kurikulum Pesantren dalam
Mengintegrasikan Nilai-Nilai Moderasi Beragama di Pontianak Barat”. Skripsi,
Pontianak, Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI), Fakultas Tarbiyah dan Ilmu
Keguruan (FTIK), Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak, 2026.
Penelitian ini dilatar belakangi oleh peran pesantren sebagai lembaga
pendidikan Islam yang memiliki tanggung jawab penting dalam menanamkan nilai-
nilai moderasi beragama kepada santri di tengah masyarakat yang majemuk.
Pesantren di Kecamatan Pontianak Barat menunjukkan praktik pendidikan yang
tidak hanya berorientasi pada penguasaan keilmuan Islam, tetapi juga pada
pembentukan sikap keberagamaan yang moderat, toleran, cinta tanah air, menolak
kekerasan, serta bersikap akomodatif terhadap budaya lokal melalui kurikulum
pesantren.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan integrasi nilai-nilai
moderasi beragama dalam kurikulum pesantren di Pontianak Barat yang meliputi
komitmen kebangsaan, anti-kekerasan, toleransi, dan sikap akomodatif terhadap
budaya lokal. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik
analisis tematik. Analisis tematik digunakan untuk mengkaji data melalui proses
pelabelan, pendefinisian, serta penafsiran deskriptif terhadap data yang diperoleh.
Teknik pengumpulan data meliputi wawancara mendalam, observasi, dan
dokumentasi. Sumber data terdiri atas data primer dan sekunder yang diperoleh dari
dua pesantren, yaitu Pondok Pesantren Al Jihad dan Pondok Pesantren Nadlatus
Syubban. Keabsahan data dijamin melalui teknik triangulasi, member check, dan
perpanjangan keikutsertaan peneliti di lapangan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kurikulum pesantren di Pontianak
Barat secara implisit telah mengintegrasikan nilai-nilai moderasi beragama ke
dalam tujuan kurikulum, materi pembelajaran, proses belajar mengajar, serta sistem
evaluasi. Nilai komitmen kebangsaan ditanamkan melalui pembelajaran akhlak,
fiqh, keteladanan para ulama, serta penguatan prinsip hubbul wathan minal iman.
Nilai anti-kekerasan dan toleransi diwujudkan melalui pendekatan pendidikan yang
humanis, pembiasaan musyawarah, kajian perbedaan pendapat (ikhtilaf), serta
kehidupan pesantren yang menjunjung tinggi sikap saling menghormati. Sementara
itu, sikap akomodatif terhadap budaya lokal dikembangkan dengan membiasakan
santri untuk menghargai adat dan tradisi setempat selama tidak bertentangan dengan
ajaran Islam. Dengan demikian, kurikulum pesantren berperan penting dalam
membentuk sikap keberagamaan santri yang moderat, inklusif, dan kontekstual.