Abstract:
MUHAMMADIAH 11811300, Pelaksanaan Metode Sorogan Dalam Membaca
Al-Qur’an Bagi Santri TPQ Taman Yasmin Pontianak Tahun Ajaran 2024-2025,
Skripsi : Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Fakultas Tarbiyah Dan
Ilmu Keguruan (FTIK) Institut Agama Islam Negeri Pontianak.
Banyak anak masih kesulitan membaca Al-Qur’an dikarenakan keterbatasan
ilmu, metode belajar yang kurang tepat, dan waktu yang terbatas. Metode Sorogan
dipandang efektif karena bersifat individual, memungkinkan santri belajar sesuai
kemampuan masing-masing, sehingga diharapkan membuat pembelajaran
membaca Al-Qur’an lebih mudah dan menyenangkan. Penelitian ini difokuskan
pada tiga hal utama, yaitu: mendeskripsikan pelaksanaan metode sorogan dalam
kegiatan pembelajaran, menilai respon membaca Al-Qur’an santri, serta
menganalisis faktor pendukung dan penghambat metode sorogan dalam konteks
pembelajaran di TPQ.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Teknik
pengumpulan data dilakukan melalui observasi langsung, wawancara mendalam
dengan ustadz dan santri, serta dokumentasi terhadap aktivitas dan perangkat
pembelajaran. Penelitian dilakukan selama beberapa minggu di TPQ Taman
Yasmin, yang memiliki total 39 santri dengan dua kategori halaqoh, yaitu halaqoh
Iqro’ dan halaqoh Al-Qur’an.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran membaca Al-Qur’an
dengan metode sorogan dilaksanakan empat kali seminggu, pada sore haris.
Proses pembelajaran terbagi menjadi tiga tahapan, yaitu: kegiatan pendahuluan
(membaca doa dan pengulangan materi sebelumnya), kegiatan inti (santri
membaca secara individual di hadapan ustadz), dan kegiatan penutup (doa
bersama dan perapihan ruang kelas). Waktu yang diberikan untuk setiap santri
disesuaikan dengan kemampuan masing-masing. Sekitar 60–70% atau 24 dari 39
santri menunjukkan kemampuan pelafalan huruf (makhraj al-huruf) yang tepat
serta pemahaman dasar tajwid, sementara sisanya masih berada pada tahap awal
pembelajaran. Metode sorogan memiliki faktor pendukung, antara lain:
memungkinkan ustadz memberikan bimbingan secara individu, mempererat
hubungan antara ustadz dan santri, serta mempercepat proses identifikasi dan
koreksi kesalahan bacaan. Namun demikian, terdapat pula beberapa faktor
penghambat, seperti keterbatasan waktu pembelajaran dan kurangnya efisiensi
saat jumlah santri cukup banyak, sehingga dalam praktiknya ustadz terkadang
harus memanggil lebih dari satu santri sekaligus untuk menyampaikan bacaan.