Abstract:
AGAMA bukan semata doktrin, tapi juga metode penyampaian. Bahwa kebanyakan kita
berhadapan dengan orang yang lebih dominan perasaan daripada pikiran. Umumnya
mengedepankan emosi daripada intelek. Karena itu, pendekatan agama harus mementingkan rasa
kemanusiaan, metode diskusi dan karakter kepedulian. Jangan sampai tindakan kekerasan
mengatas-namakan disiplin, dan taat regulasi, sehingga menjadi bumerang lembaga pendidikan.
Bagi masyarakat, tindakan kekerasan pasti dilawan dengan kekerasan. Sedangkan di sekolah,
madrasah, pondok pesantren (pontren), jika kekerasan dilakukan kakak tingkat (kating) senior,
maka pasti akan menumbuhkan rasa dendam di hati yunior, serta pewarisan sikap "pembantaian"
yang terjadi berulang pada setiap tingkatan tahun ajaran.