Abstract:
MATA rantai ilmu keislaman (sanadiyah) yang tak terputus dari generasi ke generasi
menunjukkan ajaran yang otentik. Otentisitas ajaran Islam yang bebas dari intervensi manusia.
Ajaran tauhid yang bersumber dari Alquran dan Hadis yang diriwayatkan secara mutawatir.
Mutawatir artinya dalil agama diterima dari Rasulullah kepada orang banyak. Orang banyak
tersebut meriwayatkan dan disampaikan kepada orang banyak pula. Sehingga tidak terdapat
kekeliruan pada dalil. Baik dipandang dari segi sanad, rawi maupun matan.
Tiga tokoh guru tasawuf dunia yang akan dibahas pada artikel kali ini, Imam Al-Haris bin
Asad Al-Muhasibi (wafat: Irak, 243 Hijriah), Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al
Ghazali (wafat: Iran, 505 Hijriah), Imam Ahmad ibnu Atha'llah Al-Iskandari (wafat: Mesir, 709
Hijriah). Mereka dikenal sejak dari dahulu, sekarang dan akan datang karena meninggalkan
rekam jejak keilmuan berupa tulisan. Karya monumental mereka sangat banyak, berjumlah
puluhan sampai ratusan judul buku (kitab). Bertebaran karya beliau di seluruh dunia belahan
timur-barat, utara-selatan.