Abstract:
MARAH sering sebagai pelampiasan rasa benci, dengki, merasa lemah menghadapi
ujian, merasa gagal dan tidak berharga. Terlebih marah yang bukan karena Allah merupakan
tanda ketidak-berimanan seseorang kepada takdir baik dan buruk dari-Nya, minimal jiwa
terombang-ambing. Sebagian besar marah disebabkan oleh faktor terganggunya emosi, harapan,
cita-cita, kehendak pribadi yang menginginkan cetak biru (blueprint) bagi orang lain, termasuk
keluarga. Supaya orang lain sama sukses seperti dirinya. Apalagi ibarat memakaikan baju sendiri
ke ukuran badan orang lain. Sungguh sebuah penilaian sepihak yang tidak adil. Bukankah setiap
orang memiliki stories perjalanan hidup yang berbeda-beda. Ibarat nabati, ada masa tumbuh,
kembang, mekar, berbunga, berbuah, tua, layu, tumbang, lapuk dan akhirnya mati. Sunnatullah
yang pasti berlaku pada semua makhluk hidup. Kehidupan pasti akan berakhir dengan kematian.
Adapun kematian bagi manusia di dunia adalah awal kehidupan di akhirat. Dengan penciptaan
baru, alam, bumi dan langit yang berbeda dari dunia.