Abstract:
BAHAGIA bukan datang tanpa upaya. Upaya pemantik untuk undangan kebahagiaan
ialah ketenangan. Kenapa gerangan? Karena ketenangan merupakan sumber kebijaksanaan
(hikmah). Sikap bijak dapat membuat seseorang lebih tenang menjalani kehidupan dengan
berpikir waras, berakal sehat, bertindak tepat, berhitung cermat.
Kehidupan di dunia ibarat roda pedati yang berputar menggilas waktu, siklus terus
berjalan. Kadang manusia berada di posisi atas, samping kanan, bawah, samping kiri. Tidak ada
yang salah dari keempat posisi tersebut. Posisi selalu baik, sangat bergantung kepada cara
menyikapi situasi yang cepat berubah. Karena itu, kehidupan harus ditempuh dengan bijak. Bijak
dalam arti tidak memaksakan kehendak ketika kehendak manusia berlawanan dengan kehendak
Tuhan. Meyakini bahwa setiap orang sedang menjalani kalung takdir yang melekat pada leher
mereka. Berhikmah Imam Ahmad ibnu Athaillah As-Sakandari (wafat: Mesir, 709 H) menulis
dalam kitab Al-Hikam: "Setiap orang pasti memiliki kalung takdir. Sehingga bagaimanapun
mereka berupaya keluar dari takdir. Sungguh setiap orang telah dipagari oleh sekat pagar takdir,
tanpa terlampaui. Justru itu, bebaskan dirimu dari menanggung beban berat orang lain yang
memayahkan punggungmu. Kecuali hanya sebatas menjalankan kewajiban dan amanah.
Selebihnya, selamatkan dirimu saja." Pada tataran ini, Imam Ahmad telah mendidik untuk
beriman kepada takdir. Menerima dengan lapang takdir baik dan takdir buruk dari Allah Ta'ala.
Artinya, takdir baik mengandung hikmah kebijaksanaan. Takdir buruk mengandung hikmah
kebijaksanaan. Karena keduanya bersumber dari Allah sang-Penentu.