Abstract:
MASYARAKAT Pontianak, Kubu Raya, Mempawah dan sekitarnya, tentu pernah
mendengar nama Tuan Guru Haji Ibrahim bin Haji Basir. Bukan sebatas nama, tapi perjuangan
beliau yang tak kalah penting dalam ikut merebut dan mengisi kemerdekaan. Terutama kiprah di
bidang pendidikan Islam, sosial dan dakwah santun, harmoni saling asah, asih dan asuh.
Jejak ulama Guru Haji Ibrahim yang akrab dipanggil Guru Braem tidak terlepas dari
peran utama Guru Haji Ismail Mundu bin Daeng Haji Abdul Karim. Seakan kedua nama mereka
tidak terpisah. Bukan sebatas hubungan guru-murid. Namun lebih daripada itu, hubungan orang
tua dengan anak yang paling disayangi. Guru Ibrahim inilah yang terus melanjutkan cita-cita
Guru Haji Ismail Mundu di kawasan yang pernah dirintis. Dalam rangka menyebarkan ajaran
dan mengembangkan sayap dakwah. Membuka lahan dakwah baru wilayah Sungai Ambawang
dan sekitar, tepatnya di Desa Durian. Mengikuti jejak guru dalam pemikiran, perjuangan dan
kiprahnya. Kesatuan tiga ajaran yang tak terpisah, tauhid, fikih dan tasawuf. Tauhid mengajarkan
keesaan Allah, fikih memuat hukum dan tasawuf mengedepankan adab dan akhlak. Akhlak
kepada Allah, manusia dan alam semesta. Beliau juga mengajar Alquran di semua elemen
masyarakat.