Abstract:
JIWA yang sehat ialah jiwa yang mengenal diri, lalu setelah mengenalnya, berserah diri
sajalah kepada Allah. Jika tidak, maka jiwa akan terus-menerus terombang-ambing menyikapi
suka terhadap takdir baik mengenai diri sendiri atau diri orang lain. Padahal kesukaan tersebut
hanya bersifat sementara. Sebaliknya jika takdir buruk yang menimpa, disikapi dengan duka.
Padahal kedukaan tersebut bersifat sementara pula. Kecuali bagi mereka yang beriman kepada
takdir baik untuknya, dan beriman kepada takdir buruk untuknya. Kedua takdir tersebut berasal
dari Allah Ta'ala. Lalu adakah yang rugi, jika sesuatu diyakini datang dari-nya?