Abstract:
Mesti dipahami, Dia yang maha memulai tidak bisa diperintah oleh siapapun jika Dia
belum mau memulai. Dia maha menahan karunia (menutup tangan-Nya), niscaya tidak ada
seorangpun yang sanggup membuka tangan-Nya. Bagaimanapun seseorang dikehendaki
berubah, tapi kalau Dia belum memberi restu, tidaklah seseorang berubah sampai Tuhan
berkehendak merubah. Sebab sifat manusia ialah lemah dalam kehendak ('ajuz). Memaksakan
sesuatu yang belum tiba waktu takdir baik bagi seseorang, tidaklah ia dan orang lain sanggup
memaksakan takdir baik itu datang. Sebaliknya, bagaimanapun bagi seseorang yang telah
ditakdirkan dengan takdir buruk, tiada seorangpun yang sanggup menghalangi ketibaannya.
Artinya, sifat jamal Tuhan yang datang dan pulang dalam kehidupan manusia sesuai dengan
takdir yang sudah ditetapkan-Nya di masa azali. Sifat jalal Tuhan bila datang, sungguh tidak bisa
dibendung, tidak dapat ditahan oleh siapapun. Perlakuan jamal dan jalal-Nya pasti terjadi. Misal,
Dia memberikan jamal-Nya dalam arti rahmat kepada Nabi Musa 'alaihissalam dan memaksanya
untuk masuk surga. Karena petunjuk-Nya supaya Nabi Musa 'alaihissalam berada di jalan
kebenaran. Dia memberikan jalal-Nya dalam arti siksa yang pedih kepada Fir'aun. Memaksa
Fir'aun untuk masuk neraka, karena memilih kesesatan daripada petunjuk.