Abstract:
Mas Indi Lafia Mayuri, “NEW MEDIA SEBAGAI SUMBER BELAJAR
KEAGAMAAN: Perspektif Mahasiswa Digital Native di Program Studi
Pendidikan Agama Islam (PAI) IAIN Pontianak”. Skripsi. Pontianak, Program
Studi Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Institut
Agama Islam Negeri Pontianak, 2026.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mendeskripsikan
pemanfaatan new media sebagai sumber belajar keagamaan dari perspektif
mahasiswa digital native di Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) IAIN
Pontianak. Latar belakang penelitian ini berangkat dari realitas meningkatnya
penggunaan media digital di kalangan mahasiswa, namun belum sepenuhnya
dimanfaatkan secara optimal sebagai sumber belajar keagamaan yang kritis dan
terarah. Kajian pustaka dalam penelitian ini berpijak pada konsep new media,
sumber belajar keagamaan dalam perspektif Pendidikan Islam, karakteristik
digital native menurut Marc Prensky, serta teori habitus Pierre Bourdieu yang
menekankan peran arena dan modal dalam membentuk praktik sosial.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian
sosiologis. Penggalian data dilakukan melalui wawancara mendalam semi
terstruktur, observasi, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan melalui tahapan
kondensasi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, dengan uji keabsahan
data menggunakan triangulasi, member check, dan diskusi teman sejawat.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa digital native
memanfaatkan new media sebagai sumber belajar keagamaan yang didominasi
oleh media sosial berbasis video, seperti TikTok, YouTube, dan Instagram.
Pemanfaatan tersebut dipengaruhi oleh preferensi gaya belajar yang cepat, visual,
dan interaktif, kemudahan akses dan fleksibilitas belajar, serta kebiasaan belajar
(habitus) yang terbentuk dalam arena digital dan didukung oleh modal budaya dan
modal digital yang dimiliki mahasiswa. Penelitian ini menyimpulkan bahwa new
media memiliki peran signifikan sebagai sumber belajar keagamaan yang
kontekstual bagi mahasiswa digital native, namun tetap memerlukan sikap selektif
dan kritis dalam menyaring validitas konten keagamaan.