Abstract:
SEPULUH malam terakhir Ramadan merupakan momen tersendiri di relung hati kaum
beriman. Betapa tidak, untuk meraih capaian kemuliaan lailatul qadar yang bernilai lebih baik
daripada seribu bulan (82 tahun) diperlukan ilmu untuk membedah ketersembunyian dan
membongkar rahasianya. Jaminan Tuhan tentang sosial, ekonomi, kesehatan, pendidikan,
pekerjaan, keluarga, masa depan barkah (kebaikan), salamah (keselamatan), sa'adah
(kebahagiaan) sampai menutup usia, dan membuka usia (terbit) fajar kehidupan setelah
kematian terdapat pada catatan kepastian takdir berakurasi cermat dan berpresisi tepat (qadar).
Membongkar rahasia lailatul qadar terdapat pada surah Al-Qadar. Secara implisit ialah
kesanggupan menguak tabir fajar yang mengusir kegelapan. Awal fajar hidayah ialah akhir dari
kesesatan. Hidayah berenergi kelembutan yang sanggup mengusir kekerasan. Sehingga orang
yang mendapat nikmat lailatul qadar adalah mereka yang berhati lembut, bukan berhati kasar.
Dalam kelembutan dari Allah, Allah menurunkan anugerah-Nya sampai hari kiamat kepada
hamba-Nya. Perubahan karakter menjadi ciri utama bagi peraih malam kemuliaan. Tidak sebatas
tenggelam dalam ritual, namun mempunyai kesadaran eksistensial.