Abstract:
SUKRON AL-FARISI, Penafsiran Kata Syifā’ dalam al-Qur’ān (Studi Komparatif Tafsīr Rūḥ al-Ma’ānī Karya al-Alūsī dan Tafsīr al-Nūr Karya Hasbi Ash-Shiddieqy). Program Studi Ilmu al-Quran dan Tafsīr Fakultas Ushuluddin dan Adab Institut Agama Islam Negeri (IAIN) PONTIANAK 2026. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya pergeseran pemaknaan kata Syifā’ dalam diskursus tafsīr, yang seringkali dipahami secara sempit hanya sebatas penyembuhan fisik. Padahal, cakupan maknanya dalam al-Qur’ān menyentuh dimensi spiritual, sosial, hingga peradaban.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkap penafsiran al-Alūsī tentang makna Syifā’ dalam kitab Rūḥ al-Ma’ānī, penafsiran Hasbi Ash-Shiddieqy dalam kitab al-Nūr, persamaan dan perbedaan penafsiran antara keduanya, serta faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya dinamika penafsiran tersebut.
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan (library research). Data diperoleh dari sumber primer yaitu kitab tafsīr karya al-Alūsī dan Hasbi Ash-Shiddieqy, serta literatur pendukung sebagai sumber sekunder. Pendekatan yang digunakan adalah deskriptif-analitis dan komparatif, dengan langkah mengumpulkan tema-tema berkaitan dengan Syifā’, kemudian menganalisis serta membandingkan penafsiran kedua mufassir untuk menemukan persamaan dan perbedaan pandangan dari keduanya.
Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan, penelitian ini menyimpulkan bahwa al-Alūsī menafsirkan makna Syifā’ dengan pendekatan yang luas dan mendalam, mencakup aspek lugawī, teologis, serta fiqhiyah. Ia memformulasikan Syifā’ sebagai penyembuh penyakit hati yang berdampak pada kesehatan fisik melalui keberkahan al-Qur’ān, pemaknaan madu sebagai obat yang bersifat kondisional, serta legalitas al-Qur’ān sebagai media ruqyah. Sementara itu, Hasbi Ash-Shiddieqy menafsirkan Syifā’ secara lebih global, kontekstual, dan aplikatif. Ia memahami Syifā’ sebagai penyembuh bagi berbagai macam penyakit jiwa, madu sebagai obat medis untuk berbagai penyakit, serta fungsi al-Qur’ān sebagai penyembuh bagi problematika kehidupan individu maupun kemajuan peradaban umat. Persamaan keduanya terletak pada pemaknaan Syifā’ sebagai kelegaan hati, penegasan bahwa sumber kesembuhan hakiki hanya berasal dari Allah, serta cakupan penyembuhan yang meliputi dimensi rohani maupun jasmani. Adapun perbedaan penafsiran disebabkan oleh latar belakang sosio-historis, metode tafsīr, tujuan penulisan karya, serta perbedaan audiens yang dituju oleh masing-masing mufassir.