Abstract:
NADIYA ULYA RAHMATIKA, NIM 22341037, Relevansi Pembelajaran ilmu tafsir dalam Kehidupan Sosial Keagamaan Peserta Didik di MAN 1 Pontianak.Tesis. Program Magister Pendidikan Agama Islam, Pascasarjana Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak, 2026.
Pendidikan Islam bertujuan menginternalisasikan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sosial-keagamaan peserta didik, sehingga pembelajaran ilmu tafsir berperan strategis tidak hanya dalam pemahaman makna ayat, tetapi juga pembentukan sikap religius. Namun, pembelajaran tafsir di madrasah masih dominan berorientasi kognitif dan belum banyak dikaji relevansinya terhadap kehidupan sosial-keagamaan. Oleh karena itu, penelitian ini menganalisis relevansi pembelajaran ilmu tafsir terhadap kehidupan sosial-keagamaan peserta didik di MAN 1 Pontianak dengan menggunakan teori behavioristik Skinner, konstruksi sosial Berger dan Luckmann, serta Taksonomi Bloom.
Metode yang digunakan adalah metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi lapangan (field research). Subjek penelitian adalah siswa MAN 1 Pontianak yang telah menerima pembelajaran ilmu tafsir, khususnya di kelas XII. Objek penelitian adalah relevansi pembelajaran ilmu tafsir terhadap kehidupan sosial keagamaan peserta didik, yang terlihat dari perilaku, sikap, serta partisipasi siswa dalam kegiatan keagamaan dan sosial di lingkungan MAN 1 Pontianak. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini meliputi: observasi, wawancara. Teknik analisis data dilakukan melalui tiga tahap utama: kondensasi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1)Pembelajaran ilmu tafsir meningkatkan pemahaman dan sikap belajar peserta didik melalui mekanisme stimulus dan reinforcement, namun belum berdampak pada ranah psikomotorik karena materi bersifat konseptual. 2)Dalam perspektif Berger, pembelajaran ilmu tafsir belum membentuk internalisasi nilai secara utuh karena pemahaman peserta didik masih berada pada tataran konseptual. 3) Berdasarkan taksonomi Bloom, capaian pembelajaran ilmu tafsir dominan pada ranah kognitif dan afektif, sementara ranah psikomotorik belum berkembang karena karakter materi ulūmul Qur’an.