Abstract:
SAIFULLAH, NIM : 12005059, Program Studi Komunikasi Pemyiaran Islam, Fakultas Dakwah dan Kounikasi Islam, Institut Agama Islam Negeri Pontianak, 2026, Analisis Framing Pemberitaan Unjuk Rasa Di Pontianak Bulan Agustus 2025 Pada Media Online Pontianak Post Dan Suara Kalbar. Fokus penelitian ini adalah menganalisis bagaimana Pontianak Post dan Suara Kalbar membingkai pemberitaan mengenai unjuk rasa Pontianak Agustus 2025. Tujuan penelitian ini adalah adalah untuk mengetahui dan menganalisis bagaimana Pontianak Post dan Suara Kalbar membingkai pemberitaan mengenai unjuk rasa Pontianak Agustus 2025. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan paradigma konstruktivis, menggunakan teknik analisis framing model Zhongdang Pan dan Gerald M. Kosicki yang meliputi struktur sintaksis, skrip, tematik, dan retoris. Pengumpulan data dilakukan melalui dokumentasi terhadap delapan berita, masing-masing empat berita dari Pontianak Post dan empat berita dari Suara Kalbar. Analisis data dilakukan secara manual dengan mengidentifikasi unsur-unsur framing pada setiap struktur untuk melihat cara media mengonstruksi realitas pemberitaan aksi unjuk rasa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur sintaksis Pontianak Post judul dan lead bernuansa formal serta menekankan aspek keamanan, Sumber beritanya didominasi oleh aparat kepolisian dan pejabat pemerintah. Sementara Suara Kalbar lebih menonjolkan judul emosional dan provokatif, serta memberikan ruang pada suara massa aksi dan hasil di lapangan. Struktur skrip Pontianak Post penekanan pada pengendalian situasi dan stabilitas, sedangkan Suara Kalbar membangun narasi ketegangan antara massa aksi dan aparat. Struktur tematik Pontianak Post membangun tema pentingnya stabilitas sosial dan keamanan, sementara Suara Kalbar mengangkat tema perlawanan dan perjuangan masyarakat terhadap ketidakadilan. Struktur retoris Pontianak Post menggunakan pilihan kata yang normatif dan menenangkan, sebaliknya Suara Kalbar menggunakan diksi yang lebih keras dan emosional. Kesimpulannya Pontianak Post cenderung membingkai aksi unjuk rasa sebagai peristiwa yang perlu dikelola secara tertib dan aman dengan menonjolkan peran aparat serta stabilitas sosial, sedangkan Suara Kalbar lebih kepada dinamika konflik, perlawanan massa, dan dugaan tindakan represif aparat. Perbedaan framing tersebut menunjukkan bahwa kedua media memiliki sudut pandang yang berbeda dalam membingkai peristiwa yang sama, sehingga berpotensi membentuk pemahaman masyarakat yang berbeda terhadap aksi unjuk rasa di Kota Pontianak. Rekomendasi, agar media massa senantiasa mengedepankan prinsip keberimbangan, objektivitas, dan kelengkapan informasi dalam pemberitaan aksi unjuk rasa. Selain itu, pembaca diharapkan lebih kritis dalam memahami berita agar tidak terpengaruh oleh konstruksi framing yang dibangun media.