Abstract:
NUR AULIA RAHMA (12109017) Pengulangan Ayat Wa Ma> As’alukum ‘Alaihi Min Ajr(in) In Ajriya Illa> ‘Ala> Rabbil-‘A>lami>n(a) Dalam Surah Asy-Syu‘Arā Perspektif Tafsir Al-Azhar. Fakultas Ushuluddin dan Adab (FUSHA), Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT), Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak, 2025.
Tujuan dari penelitian ini adalah mengungkap makna pengulangan ayat Ayat Wa Ma> As’alukum ‘Alaihi Min Ajr(in) In Ajriya Illa> ‘Ala> Rabbil‘A>lami>n(a) dalam Surah Asy-Syu‘Arā dan meninjaunya melalui pandangan Tafsir Al-Azhar. Mengetahui salah satu ciri dari keistimewaan gaya bahasa Al-Qur’an adalah adanya pengulangan ayat yang berfungsi menegaskan pesan, memperkuat makna, serta memudahkan umat untuk memahami dan mengingatnya. Fenomena pengulangan ini sering disalahpahami sebagai
pengulangan yang sia-sia, padahal memiliki nilai sastra, makna spiritual, dan hikmah yang mendalam.
Metode penelitian dalam penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif yang bersifat kepustakaan (library research). Sumber data utama dalam penelitian ini adalah Kitab Tafsir Al-Azhar karya Buya Hamka dan Semantik Toshihiko Izutsu. Sumber sekundernya adalah buku, jurnal ilmiah, kitab-kitab tafsir, serta artikel ilmiah lainnya yang relevan dengan pengulangan ayat dalam Al-Qur’an. Teknik pengumpulan data
dilakukan melalui metode dokumentasi dengan menggunakan teori tikra>r, kaidah-kaidah tikra>r, tafsir tematik, dan semantik Toshihiko Izutsu.
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa; Pertama, Pengulangan Ayat Wa Ma> As’alukum ‘Alaihi Min Ajr(in) In Ajriya Illa> ‘Ala> Rabbil‘A>lami>n(a) dalam Surah Asy-Syu’ara> menegaskan kemurnian dan keikhlasan misi dakwah para nabi, khususnya Nabi Nuh, Hud, Shalih, Luth, dan Syu’aib, yang sama-sama menyampaikan ajaran tauhid tanpa mengharapkan imbalan duniawi meskipun menghadapi konteks sosial yang berbeda. Melalui pendekatan semantik Toshihiko Izutsu, pengulangan ayat ini menunjukkan
pergeseran makna ajr dari upah material menuju pahala yang sepenuhnya disandarkan kepada Allah sebagai Rabb al-‘ālamīn, sehingga menghadirkan kesatuan pesan tauhid dengan nuansa makna yang kontekstual; Kedua,Tafsir Al-Azhar karya Buya Hamka memaknai pengulangan ayat tersebut sebagai bentuk penegasan (taukīd) atas integritas dakwah para rasul, sekaligus pembersihan misi kenabian dari tuduhan pamrih, kepentingan materi, dan ambisi duniawi. Dengan demikian, pengulangan ayat ini bukan sekadar repetisi lafaz, melainkan penguatan pesan teologis dan keteladanan akhlak
dakwah, bahwa balasan sejati atas perjuangan menegakkan kebenaran hanyalah pahala dan keridaan Allah semata.