| dc.contributor.advisor | Syarif, Syarif | |
| dc.contributor.advisor | Putra, Hepni | |
| dc.contributor.author | Alaydrus, Syarif Muhammad Ikhsan | |
| dc.date.accessioned | 2023-06-08T06:58:07Z | |
| dc.date.available | 2023-06-08T06:58:07Z | |
| dc.date.issued | 2022 | |
| dc.identifier.uri | https://digilib.iainptk.ac.id/xmlui/handle/123456789/3128 | |
| dc.description.abstract | Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui Bagaimana Penafsiran Sayyid Qut}b dan Haji Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA) terhadap term ulama dalam QS. Asy-Syu’ara’ [26]: 197 dan QS. Fatir [35]: 28 pada Tafsir Fi Zilal Al-Qur’an dan persamaan dan perbedaan penafsiran keduanya terhadap term ulama dalam QS. Asy-Syuara’ [26]: 197 dan QS. Fatir [35]: 28. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Sumber data penelitian ini terdiri dari sumber primer berupa kitab Tafsir Fi Zilal Al-Qur’an karangan Sayyid Qutb dan Kitab Tafsir Al-Azhar karangan Haji Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA) dan sumber sekunder berupa buku yang ditulis oleh Abu Bakar Jabir Al-jazairy diterjemahkan oleh Asep dan Kamaluddin pada tahun 2001 yang berjudul “Al ‘Ilmu wa Al ‘Ulama (Ilmu dan Ulama Pelita Kehidupan Dunia dan Akhirat)” dan bukubuku lainnya berkaitan dengan ulama. Berdasarkan analisis yang dilakukan, penelitian ini menyimpulkan bahwa: 1) Penafsiran Sayyid Qutb dan HAMKA terhadap ulama dalam tafsirnya adalah pertama, ulama-ulama Bani Israil yang tidak mengakui adanya nabi dan rasul terakhir yang bukan berasal dari golongan mereka melainkan dari golongan Arab, padahal mereka telah lama menanti kedatangan nabi dan rasul terakhir itu. Namun HAMKA menambahkan ada ulama Bani Israil yang mengakui risalah yang dibawa oleh nabi dan rasul terakhir itu dan akhirnya beriman. Kedua, ulama adalah orang-orang yang memiliki ilmu pengetahuan kemudian disampaikan kepada orang lain, namun sebelum itu, ulama harus mengenal Allah dari ayat-ayat kauniyahnya berupa bentangan alam semesta yang luas merupakan hasil ciptaan-Nya. Sayyid Qutb menambahkan terlebih dahulu makrifat kepada Allah dengan sempurna atau sebenar-benarnya agar ilmu itu dirasakan oleh hatinya baru disampaikan (tabligh). 2) Adapun persamaan penafsiran keduanya adalah pertama, ulama-ulama Bani Israil yang sedang menunggu kedatangan nabi dan rasul terakhir sebagaimana yang disebutkan dalam kitab mereka yakni Taurat. Sedangkan perbedaanya pertama, Sayyid Qutb tidak menyebutkan secara spesifik ulama-ulama Bani Israil tersebut berasal dari negeri mana. Namun HAMKA menyebutkan bahwa ulama-ulama Bani Israil tersebut tersebar di dua daerah/negeri yaitu Syam dan Madinah. | en_US |
| dc.language.iso | id | en_US |
| dc.publisher | IAIN Pontianak | en_US |
| dc.subject | Ulama | en_US |
| dc.subject | QS. Asy-Syu’ara’ [26]: 197 | en_US |
| dc.subject | QS. Fatir [35]: 28 | en_US |
| dc.subject | Tafsir Fi Zilal Al-Qur’an | en_US |
| dc.subject | Tafsir Al-Azhar | en_US |
| dc.title | ULAMA DALAM AL-QUR’AN | en_US |
| dc.title.alternative | Studi Komparatif Tafsir Fi Zilal Al-Qur’an dengan Tafsir Al-Azhar | en_US |
| dc.type | Skripsi | en_US |