Abstract:
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui budaya apa saja yang
mempengaruhi kesiapan menikah mahasiswa Program Studi Bimbingan
Konseling Islam FUAD IAIN Pontianak; untuk mengetahui apakah budaya
mempengaruhi kesiapan menikah pada mahasiswa Program Studi Bimbingan
Konseling Islam FUAD IAIN Pontianak; untuk mengetahui bagaimana budaya
mempengaruhi kesiapan menikah pada mahasiswa Program Studi Bimbingan
Konseling Islam FUAD IAIN Pontianak.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode
deskriptif. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah observasi,
wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan reduksi data,
data display dan pengambilan kesimpulan/verifikasi. Selanjutnya Teknik
Pemeriksaan Keabsahan Data menggunakan meningkatkan ketekunan, triangulasi
dan member check.
Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa budaya yang
mempengaruhi kesiapan menikah mahasiswa Bimbingan Konseling Islam FUAD
IAIN Pontianak dalam ruang lingkup keluarga ada budaya adik tidak boleh
melangkahi kakak dalam menikah atau dalam beberapa daerah dikenal dengan
istilah Plangkah dalam budaya Betawi dan Ngarunghal dalam budaya Sunda.
Budaya menikah muda yang ada dalam budaya Madura, budaya betangas dan
mandi kasai yang ada dalam budaya Melayu. Kemudian dalam budaya Betawi ada
budaya palang pintu, dan dalam budaya Batak ada budaya marpokat, dalam ruang
lingkup tempat tinggal ada budaya saroan dalam budaya Melayu dan budaya
resepsi, dalam ruang lingkup kampus ada budaya pacaran; terdapat beberapa
budaya yang mempengaruhi kesiapan menikah seperti budaya Plangkah, nikah
muda, betangas, palang pintu dan marpokat namun secara umum faktor budaya
bukanlah faktor utama yang mempengaruhi kesiapan menikah mahasiswa
Program Studi Bimbingan Konseling Islam FUAD IAIN Pontianak karena faktor
yang paling mempengaruhi adalah faktor psikologis dari segi kontrol emosi;
budaya mempengaruhi kesiapan menikah mahasiswa Program Studi Bimbingan
Konseling Islam FUAD IAIN Pontianak dikarenakan budaya bisa menjadi salah
satu faktor pendorong kesiapan menikah dan bisa juga menjadi faktor penghambat
kesiapan menikah.