Abstract:
SIMPLE, bukan menyederhanakan masalah, tapi pendidikan memang sederhana. Berada
di alam terbuka, ruang penuh keceriaan, kebahagiaan, saling berbagi cerita, senyum dan tawa.
Bahkan kesediaan menertawakan diri merupakan trik belajar bahagia. Pembelajaran bermakna
belum masuk ke inti, jika belum melibatkan fisik dan mental. Meskipun lelucon atau joks
sederhana. Pendidikan berlisensi ialah saling menyapa bukan ketegangan. Ilmu pengetahuan
senyawa dengan kebahagiaan. Semakin bahagia seseorang, semakin banyak ia menyerap ilmu.
Karena penerimaan ilmu sangat erat hubungannya dengan hormon bahagia. Dijamin ilmu
tersebut akan tahan lama dan bermanfaat.
Tuhan sengaja membentang semesta sebagai sumber belajar. Supaya tidak ada sekat yang
dapat memenjarakan seseorang ke dalam kurungan keakuan tanpa sadar. Pendidikan seharusnya
membongkar sekat keilmuan, dan mengoyak selaput pengetahuan. Mengapa sekarang justru
pendidikan menstratifikasi masyarakat berkelas? Asasi pendidikan tidak demikian. Sejak
imperialisme dan kolonialisme pendidikan terbangun yang dibawa oleh penjajahan di awal abad
ke-18 Masehi, terbina kelas-kelas di masyarakat lagi tersekat. Sehingga lupa terhadap jati diri
sebagai rakyat. Esensial pendidikan ialah dari dan untuk rakyat.