Abstract:
PADA sepuluh malam terakhir Ramadan, sesudah kita beribadah puasa, salat malam,
tadarus Alquran, sedekah, zakat, infak. Disamping menyimak tausiah ilmu. Menghadiri kultum
antara salat Isya' dan taraweh. Mengikuti kajian menjelang berbuka puasa Ramadan saban sore,
kuliah subuh, kuliah duha, kuliah zuhur, bahkan i'tikaf sepuluh malam terakhir Ramadan tanpa
absen. Tentu kita semua berharap: Ibadah tersebut diterima Allah SWT. Ibarat menanam benih
yang akan kita petik hasilnya secara sempurna di akhirat kelak. Dipersembahkan ke pangkuan
Tuhan tanpa cacat. Ibarah yang disempurnakan dan menyempurnakan. Sebab jangan sampai
ibadah tersebut terkatung-katung antara langit dan bumi, tidak tersampaikan pada-Nya Tuhan
sang-pemilik ibadah Ramadan. Ibadah yang mengawang-awang tanpa tahu alamat penerima, dan
tidak mengenal sang-pembawa, utusan atau kurir agung-Nya.
Ada rasa kecewa ketika varian item ibadah yang banyak, tapi tidak diterima oleh Tuhan.
Ibarat logistik menumpuk di gudang penyimpanan tanpa daya angkut dan daya dorong menuju
tujuan. Ketepatan tempat, akurasi waktu dan amal tulus (lillahi ta'ala). Selain harus jelas
alamatnya, wajib ada yang mengantar. Lama-lama, barang yang tertimbun tersebut bila habis
masa pakai (kadaluarsa), maka sangat berbahaya bagi kesehatan. Bukan makanan bergizi, namun
makanan beracun. Perubahan teksur makanan yang beracun dapat menyebabkan tumor, kista,
kanker. Bahkan berdampak serius yaitu kematian.