Islam di Borneo

Show simple item record

dc.contributor.author Hermansyah
dc.contributor.author Erwin
dc.contributor.author Sulaiman, Rusdi
dc.date.accessioned 2023-04-05T06:40:34Z
dc.date.available 2023-04-05T06:40:34Z
dc.date.issued 2017-11
dc.identifier.isbn 978-602-0868-87-5
dc.identifier.uri https://digilib.iainptk.ac.id/xmlui/handle/123456789/2673
dc.description.abstract Buku yang merupakan hasil penelitian terhadap naskah Muhammad As’ad ini telah menghasilkan terjemahan dengan anotasi berupa variasi bacaan/terjemahan dari dua teks lain. Selain itu, dalam buku ini juga telah berupaya memaparkan latar belakang penulis dan situasi sosial tempat naskah itu ditemukan. Penulisan/penyalinan naskah ini bisa dilihat dari konteks sejarah perkembangan Islam di Nusantara khususnya dan dunia pada umumnya. Lahirnya kecenderungan pengamalan tasawuf yang juga diiringi dengan upaya pewarisan ilmu tersebut melalui tradisi tulis dapat dijelaskan dengan teori umum mengenai masuknya Islam ke Nusantara. Menurut teori tersebut, masuknya Islam ke Nusantara dibawa oleh para sufi (lihat Azyumardi Azra 1999; Abdul Hadi 2001; Alwi 2000; Bellah 2000; Hermansyah 2002; Yusriadi dan Hermansyah 2003; Hermansyah 2010). Di Sambas Awal abad ke-18, masa berkuasanya sultan Sambas ke-3 yaitu Muruhum Adil atau Raden Miliya bin Raden Bima bergelar Sultan Umar Aqamaddin I (1114-1140H/1702- 1727M), Islam dengan corak tasawuf itu telah masuk dan berkembang di Sambas. Di antara ulama yang terkenal di Sambas pada masa itu adalah Syaikh Abdul Jalil al-Fatani, berasal dari Patani. Ia dimakamkan di daerah Lumbang, Sambas, dan sampai sekarang makamnya dikenal sebagai Keramat Lumbang. Oleh karena itu, wajar jika Muhammad As’ád yang lahir pada awal abad ke-18 tertarik untuk mendalami Tasawuf. Naskah setebal 32 halaman yang selesai ditulis pada tanggal 29 Rabiul Awal 1280 H merupakan salinan dari al-Hikam ISLAM DI BORNEO: Jejak Tasawuf Dalam Naskah Muhammad As’ad SambasHermansyah, Erwin, & Rusdi Sulaiman | 93 karya Ibnu ‘Athaillah al-Syakandari. Berdasarkan perbandingan dengan teks lain nampak beberapa perbedaan terutama dalam penulisan kata. Perbedaan itu dijelaskan dalam bentuk catatan kaki pada bagian terjemahan teks pada Bab III. Walaupun pengungkapan pesan-pesan yang bercorak tasawuf dalam naskah ini umumnya bercorak filsafat, namun tidak seperti al-Hallaj, Ibnu Arabi dan para tokoh tasawuf falsafi yang lainnya. Pemikiran dalam naskah ini tidak mengedepankan konsep ketuhanan yang dialektis tetapi lebih banyak menjadikan Tuhan sebagai pangkal dan akhir seluruh niat, aktivitas, dan tujuan makhluk. Naskah ini juga mengemukakan unsur-unsur pengamalan ibadah dan suluk. Secara khusus naskah ini menyebutkan pentingnya salat. berbeda dengan salat dalam pandangan para fuqaha yang lebih mementingkan syarat dan rukun formal dari ibadah itu, dalam naskah ini salat harus ditegakkan bukan hanya dilaksanakan. Salat yang ditegakkan adalah salat yang bersamaan dengan penyucian hati. Salat merupakan sarana untuk bermunajat dan pembersihan batin. Dengan demikian, salat itu selain merupakan sarana berbakti kepada Tuhan, juga membawa efek kesucian lahir dan batin, menjadikan pelakunya lebih baik. Sebaliknya salat tanpa penghayatan rohaniah akan merupakan suatu kegiatan yang kurang bermakna, kering, dan tidak akan membawa perubahan bagi pelakunya. Pemikiran dalam naskah ini menunjukkan ciri ahl al- sunnah; bahwa amal dan doa sangat penting tetapi bukan sebab Tuhan memberikan balasan. Kajian tentang naskah Muhammad As’ád menyajikan landasan kepada peneliti lain untuk membuat penelitian yang lebih luas. Kajian ini memiliki keterbatasan antara lain belum membuktikan bagaimana pengaruh naskah ini di masyarakat. Sebagaimana pengetahuan umum, Islam di Sambas, khususnya di kalangan istana, lebih dekat kepada tradisi model Timur Tengah yang cenderung menolak tasawuf. Oleh karena itu, para peneliti dapat melakukan penelitian antara lain mengenai ISLAM DI BORNEO: Jejak Tasawuf Dalam Naskah Muhammad As’ad Sambas94 | Hermansyah, Erwin, & Rusdi Sulaiman pengaruh tasawuf dalam kehidupan masyarakat. Bagaimana pergumulan antara corak Islam istana dengan corak Islam tasawuf yang diamalkan sebagian masyarakat. Hasil Kajian ini juga bisa dijadikan sebagai landasan untuk menunjang data tentang sejarah Islam di Kalimantan Barat, terutama mengenai corak beragama. Selain itu, peneliti menyarankan agar dilakukan penelitian terhadap naskah- naskah lain yang tersebar di kalangan masyarakat. Penelitian semacam ini penting antara lain untuk mengungkap masa lampau yang mempengaruhi masa kini. Selain itu, penelitian sejenis juga memungkinkan menggali khazanah para pendahulu yang mungkin relevan untuk masa sekarang. en_US
dc.language.iso id en_US
dc.publisher IAIN Pontianak Press en_US
dc.subject PENDAHULUAN en_US
dc.subject ISLAM DI SAMBAS en_US
dc.subject NASKAH DAN LATAR BELAKANG PENULIS en_US
dc.subject ANALISI ISI NASKAH en_US
dc.subject PENUTUP en_US
dc.subject DAFTAR PUSTAKA en_US
dc.title Islam di Borneo en_US
dc.title.alternative Jejak Tasawuf dalam Naskah Muhammad As'ad Sambas en_US
dc.type Book en_US


Files in this item

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record

Search


Advanced Search

Browse

My Account