ARTIKEL OPINI TAHAPAN MANUSIA BELAJAR MENILAI KEHIDUPAN

Show simple item record

dc.contributor.author Ma'ruf, Ma'ruf
dc.date.accessioned 2026-10-16T04:17:26Z
dc.date.available 2026-10-16T04:17:26Z
dc.date.issued 2026-10-05
dc.identifier.uri https://digilib.iainptk.ac.id/xmlui/handle/123456789/9799
dc.description.abstract Tahapan pertama belajar terfokus pada diri yang baru belajar. Bahwa hanya perspektifnya sajalah standar kebenaran, bukan dari yang lain. Cukup dimaklumi, ibarat setiap orang pasti pernah mengalami masa dimana "hanya silatnya" saja yang hebat. Sebab baru belajar satu dan dua jurus silat. Baru melewati masa yang "mencengangkan." Berakibat semua orang salah, standar benar hanya dirinya yang baru tahu. Padahal di luar sekolah sudah jauh berkembang ilmu pengetahuan. Problemnya bukan tentang tahu atau tidak tahu. Tapi adab pembelajar yang belum terbina sejak awal. Kadang ilmu bersesuaian (ekuivalensi) dengan adab. Lebih sering dalam praktik ketika ilmu bertentangan (ambivalensi) dengan adab. Mendatangkan kisruh situasi dan kondisi. Contohnya, kaum Nabi Musa yang sudah diselamatkan oleh Allah SWT dari kekejaman Fir'aun dan tentaranya. "Maka berjalanlah kamu (Musa) dengan para hamba-Ku pada malam hari. Sesungguhnya kamu akan dikejar (Ad-Dukhan:23)." Namun setelah mereka keluar dari Mesir dan sampai ke Palestina, tanah yang dijanjikan Tuhan di dalam Taurat. Mereka menyalahkan Musa. Menyalahkan Musa sama dengan menyalahkan Tuhan. Karena hijrah dari Mesir ke Palestina adalah perintah Tuhan. Tuhan bertujuan menyelamatkan Bani Israel (kaum Musa) serta menyelamatkan iman mereka. en_US
dc.language.iso id en_US
dc.publisher IAIN Pontianak en_US
dc.title ARTIKEL OPINI TAHAPAN MANUSIA BELAJAR MENILAI KEHIDUPAN en_US
dc.type Article en_US


Files in this item

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record

Search


Advanced Search

Browse

My Account