| dc.description.abstract |
Tahapan pertama belajar
terfokus pada diri yang baru belajar. Bahwa hanya
perspektifnya sajalah standar kebenaran, bukan dari yang lain. Cukup dimaklumi, ibarat setiap
orang pasti pernah mengalami masa dimana "hanya silatnya" saja yang hebat. Sebab baru belajar
satu dan dua jurus silat. Baru melewati masa yang "mencengangkan." Berakibat semua orang
salah, standar benar hanya dirinya yang baru tahu. Padahal di luar sekolah sudah jauh
berkembang ilmu pengetahuan. Problemnya bukan tentang tahu atau tidak tahu. Tapi adab
pembelajar yang belum terbina sejak awal. Kadang ilmu bersesuaian (ekuivalensi) dengan adab.
Lebih sering dalam praktik ketika ilmu bertentangan (ambivalensi) dengan adab. Mendatangkan
kisruh situasi dan kondisi.
Contohnya, kaum Nabi Musa yang sudah diselamatkan oleh Allah SWT dari kekejaman
Fir'aun dan tentaranya. "Maka berjalanlah kamu (Musa) dengan para hamba-Ku pada malam
hari. Sesungguhnya kamu akan dikejar (Ad-Dukhan:23)." Namun setelah mereka keluar dari
Mesir dan sampai ke Palestina, tanah yang dijanjikan Tuhan di dalam Taurat. Mereka
menyalahkan Musa. Menyalahkan Musa sama dengan menyalahkan Tuhan. Karena hijrah dari
Mesir ke Palestina adalah perintah Tuhan. Tuhan bertujuan menyelamatkan Bani Israel (kaum
Musa) serta menyelamatkan iman mereka. |
en_US |