| dc.description |
Buku ini merangkum tiga jalur itu ke dalam satu konstruksi. Bab-bab awal menata ulang paradigma teks dan kultur, konsep Living Qur’an, serta tiga lensa resepsi—sosio-kultural, estetikpsikologis, dan hermeneutik—yang penulis kembangkan dari klasifikasi Amīn al-Khūlī dan dari teori resepsi Hans Robert Jauss. Bab VII dan VIII sengaja dibuat operasional, sebab penulis kerap menemui rancangan penelitian yang judulnya “Living Qur’an di Kalimantan Barat” lalu kehabisan napas di lapangan karena fenomena tidak pernah dibatasi. Bab IX menguji lensa itu pada kasus: yasinan malam Jumat, murattal sebagai terapi kecemasan, resepsi ayat jihād oleh eks-narapidana teroris, dan Living Qur’an virtual. Prinsip yang penulis pegang secara konsisten ialah bahwa tiga resepsi itu adalah lensa, bukan kotak. Satu malam yasinan di Kecamatan Sungai Raya dapat dibaca sebagai kohesi sosial, sebagai pengalaman batin, dan sebagai implementasi pemahaman atas Surah Yāsīn, tanpa dipaksa masuk ke salah satu laci saja. |
en_US |