KOLABORASI SYARIAT DAN HAKIKAT MENUJU PERILAKU PUNCAK BERAGAMA

Show simple item record

dc.contributor.author Sabran, Ma'ruf Zahran
dc.date.accessioned 2026-08-27T02:37:05Z
dc.date.available 2026-08-27T02:37:05Z
dc.date.issued 2026-06-26
dc.identifier.uri https://digilib.iainptk.ac.id/xmlui/handle/123456789/9592
dc.description.abstract ORANG jahat bukan karena ia tidak bersyariat, dan orang jahat bukan karena ia tidak berhakikat. Kedua ucapan (syariat dan hakikat) boleh dipisah, namun belum sempurna bila tidak digabungkan. Ucapan orang-orang syariat berbeda dengan orang-orang hakikat. Misal, seorang guru yang mengatakan "tidak perlu salat, karena aku tidak salat." Kalam guru (mursyid) bila tidak ditanya lagi, disusul dengan usul-asal, terhenti. Menjadilah para salik (murid) yang tidak salat seumur hidup mereka. Padahal, kalam mursyid belum titik, melainkan tanda koma (istirahat), untuk menunggu pertanyaan selanjutnya dari para murid. en_US
dc.language.iso id en_US
dc.publisher IAIN PONTIANAK en_US
dc.title KOLABORASI SYARIAT DAN HAKIKAT MENUJU PERILAKU PUNCAK BERAGAMA en_US
dc.type Article en_US


Files in this item

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record

Search


Advanced Search

Browse

My Account