| dc.description.abstract |
A. Latar Belakang
Dalam dunia bisnis, keberhasilan suatu usaha bukan sekadar bertumpu pada ide produk yang menarik, tetapi juga pada perencanaan teknis dan operasional yang matang. Pemilihan lokasi bisnis yang tepat, penentuan kapasitas produksi sesuai permintaan pasar, serta penyusunan alur kerja (SOP) yang efisien menjadi fondasi utama untuk mencapai efisiensi dan daya saing jangka panjang (Nuari, 2024).
Fenomena seperti antrean panjang di gerai Mie Gacoan menunjukkan ketidakseimbangan antara kapasitas produksi dan kebutuhan pasar, yang sering kali mengakibatkan penurunan kualitas pelayanan dan potensi hilangnya pelanggan. Hal ini menjadi pelajaran berharga bahwa aspek operasional seperti aksesibilitas lokasi, ketersediaan bahan baku, kedekatan pasar, serta optimalisasi proses produksi harus menjadi prioritas utama dalam studi kelayakan bisnis, terutama di sektor kuliner yang dinamis (Ancu & Bulutoding, 2025).
Di Indonesia, dengan mayoritas penduduk Muslim, bisnis syariah menuntut tambahan kepatuhan terhadap prinsip halal, mulai dari rantai pasok hingga sertifikasi fasilitas. Tanpa perencanaan yang tepat, usaha berpotensi gagal meskipun memiliki permintaan tinggi, sebagaimana terlihat pada kasus-kasus UMKM yang tumbuh pesat tapi terhambat oleh keterbatasan operasional (Abner et al., 2022). |
en_US |