<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
<channel>
<title>12. Karya Ilmiah Populer</title>
<link>https://digilib.iainptk.ac.id/xmlui/handle/123456789/151</link>
<description>Terdiri dari artikel koran, majalah dan lainnya</description>
<pubDate>Mon, 19 Oct 2026 06:47:03 GMT</pubDate>
<dc:date>2026-10-19T06:47:03Z</dc:date>
<item>
<title>ARTIKEL OPINI PELAJARAN SEJARAH AKIBAT GAGAL MELEPAS  BAHAYA EGO</title>
<link>https://digilib.iainptk.ac.id/xmlui/handle/123456789/9803</link>
<description>ARTIKEL OPINI PELAJARAN SEJARAH AKIBAT GAGAL MELEPAS  BAHAYA EGO
Ma'ruf, Ma'ruf
Belajar dari sejarah Karun dan Firaun bertujuan agar tidak mengulangi &#13;
perilaku jahat mereka. Mereka kehilangan kontak kesadaran diri kepada Tuhan &#13;
disebabkan kesombongan ego. Ternyata, kesombongan tidak hanya membuang &#13;
kesadaran bahwa manusia memiliki sisi terang dan gelap, namun manusia &#13;
sombong juga tidak menyadari bahwa kehidupan ialah antre menunggu jadwal &#13;
kematian. Kematian adalah sesuatu yang pasti. Jabatan, kekayaan, investasi, &#13;
saham, obligasi, keluarga, dan anak-anak yang diharapkan bantuannya di hari tua &#13;
justru lebih banyak menuai kecewa dan kecaman. &#13;
Dalam perjalanan manusia, tidak sedikit yang tertipu oleh atribut duniawi. &#13;
Sebab mata zahir memandang apa yang tampak nyata, lalu segera menilai. Mata &#13;
hanya ingin memandang yang manis sesuai standarnya, sehingga banyak yang &#13;
tertipu. Telah difirmankan oleh Allah SWT: "Kehidupan dunia dijadikan terasa &#13;
indah bagi orang-orang kafir, dan mereka menghina orang-orang yang beriman. &#13;
Padahal orang-orang yang bertakwa itu berada di atas mereka pada hari kiamat. &#13;
Dan Allah memberi rezeki kepada orang yang Dia kehendaki tanpa perhitungan." &#13;
(Q.S. Al-Baqarah: 212).
</description>
<pubDate>Thu, 15 Oct 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">https://digilib.iainptk.ac.id/xmlui/handle/123456789/9803</guid>
<dc:date>2026-10-15T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>ARTIKEL OPINI KEUTAMAAN DOA DAN ZIKIR</title>
<link>https://digilib.iainptk.ac.id/xmlui/handle/123456789/9802</link>
<description>ARTIKEL OPINI KEUTAMAAN DOA DAN ZIKIR
Ma'ruf, Ma'ruf
Keutamaan pertama zikir bagi penzikir laki-laki dan penzikir perempuan &#13;
di antaranya Allah SWT meminjam wadah hatinya untuk menghidupkan, &#13;
menumbuhkan, dan menyuburkan kalimat Allah SWT. Meskipun sumber zikir &#13;
sebenarnya berasal dari Allah dan untuk Allah, namun karena nama dan sifat-Nya &#13;
yang selalu banyak berterima kasih (Asy-Syakur), maka Dia nisbahkan dan &#13;
pertautkan sumber zikir adalah lisan dan kehadiran hati hamba yang diberi &#13;
hidayah dari-Nya. &#13;
Zikir dapat diartikan semua perbuatan taat kepada Allah. Berbahagialah &#13;
ketika Allah SWT menuntun hati hamba-Nya untuk selalu berzikir. Artinya, hati &#13;
yang mengingat Allah lalu terdorong beribadah dan beramal saleh. Hati &#13;
mengingat Allah lalu terhindar dari perbuatan dosa dan durhaka.
</description>
<pubDate>Tue, 13 Oct 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">https://digilib.iainptk.ac.id/xmlui/handle/123456789/9802</guid>
<dc:date>2026-10-13T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>ARTIKEL OPINI  MEMUPUK NILAI IBADAH BERDAMPAK TERHADAP KEHIDUPAN (Kesadaran  Beragama Bertumbuh, Bukan Kebiasaan Berulang)</title>
<link>https://digilib.iainptk.ac.id/xmlui/handle/123456789/9801</link>
<description>ARTIKEL OPINI  MEMUPUK NILAI IBADAH BERDAMPAK TERHADAP KEHIDUPAN (Kesadaran  Beragama Bertumbuh, Bukan Kebiasaan Berulang)
Ma'ruf, Ma'ruf
AGAMA bukan semata doktrin, tapi juga metode penyampaian. Bahwa kebanyakan kita &#13;
berhadapan dengan orang yang lebih dominan perasaan daripada pikiran. Umumnya &#13;
mengedepankan emosi daripada intelek. Karena itu, pendekatan agama harus mementingkan rasa &#13;
kemanusiaan, metode diskusi dan karakter kepedulian. Jangan sampai tindakan kekerasan &#13;
mengatas-namakan disiplin, dan taat regulasi, sehingga menjadi bumerang lembaga pendidikan. &#13;
Bagi masyarakat, tindakan kekerasan pasti dilawan dengan kekerasan. Sedangkan di sekolah, &#13;
madrasah, pondok pesantren (pontren), jika kekerasan dilakukan kakak tingkat (kating) senior, &#13;
maka pasti akan menumbuhkan rasa dendam di hati yunior, serta pewarisan sikap "pembantaian" &#13;
yang terjadi berulang pada setiap tingkatan tahun ajaran.
</description>
<pubDate>Wed, 07 Oct 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">https://digilib.iainptk.ac.id/xmlui/handle/123456789/9801</guid>
<dc:date>2026-10-07T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>ARTIKEL OPINI MENGKONFIRMASI AKAL DENGAN WAHYU (Belajar dari Kisah Inspiratif Hayy bin  Yaqzan)</title>
<link>https://digilib.iainptk.ac.id/xmlui/handle/123456789/9800</link>
<description>ARTIKEL OPINI MENGKONFIRMASI AKAL DENGAN WAHYU (Belajar dari Kisah Inspiratif Hayy bin  Yaqzan)
Ma'ruf, Ma'ruf
MANUSIA bertipe makhluk yang bisa dididik dan mendidik, atau disebut manusia &#13;
pendidikan (homo educandum) untuk menumbuhkan potensi baik padanya. Melalui guru dan &#13;
tanpa guru (formal). Bukti nyata adalah kisah inspiratif Hayy bin Yaqzan. &#13;
Lembar kehidupan Hayy bin Yaqzan diangkat dari sebuah kisah filsafat klasik karya Ibnu &#13;
Thufail (Abu Bakar Muhammad bin Abdul Malik bin Thufail Al-Qaisi). Beliau lahir di &#13;
Andalusia (Spanyol, 1105 Masehi). Beliau wafat di Maroko, 1185 Masehi, seorang filosof &#13;
muslim dari Eropa. Kitab Hayy bin Yaqzan artinya: Si-Hidup, anak dari yang sadar. &#13;
Ringkas kisah terdapat seorang bayi terdampar sebatang kara di pulau kosong tanpa &#13;
manusia. Diasuh oleh seekor kijang. Pendidikan dan pembelajaran berlangsung tanpa bahasa, &#13;
tanpa guru, tanpa kitab. Dengan instink, naluri, akal dan pengamatan alam, bayi Hayy tumbuh &#13;
dan belajar bertahan hidup.
</description>
<pubDate>Mon, 05 Oct 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">https://digilib.iainptk.ac.id/xmlui/handle/123456789/9800</guid>
<dc:date>2026-10-05T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</channel>
</rss>
