<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<title>Jurnal Luar</title>
<link href="https://digilib.iainptk.ac.id/xmlui/handle/123456789/2091" rel="alternate"/>
<subtitle/>
<id>https://digilib.iainptk.ac.id/xmlui/handle/123456789/2091</id>
<updated>2026-08-13T07:15:46Z</updated>
<dc:date>2026-08-13T07:15:46Z</dc:date>
<entry>
<title>The Importance of Language Games in Teaching Writing Skills</title>
<link href="https://digilib.iainptk.ac.id/xmlui/handle/123456789/9475" rel="alternate"/>
<author>
<name>Buhori, Buhori</name>
</author>
<id>https://digilib.iainptk.ac.id/xmlui/handle/123456789/9475</id>
<updated>2026-08-12T05:24:10Z</updated>
<published>2014-04-18T00:00:00Z</published>
<summary type="text">The Importance of Language Games in Teaching Writing Skills
Buhori, Buhori
Writing is recognized as one of the four foundational language skills, alongside listening, &#13;
speaking, and reading. In the context of Arabic language instruction, writing is typically &#13;
introduced only after learners have been taught and have mastered the other three skills. &#13;
A learner is considered to have achieved writing proficiency when they are able to &#13;
accurately copy written texts and dictated words, as well as articulate their thoughts in &#13;
clear and structured written language. Writing encompasses multiple levels of &#13;
complexity, ranging from basic transcription to more advanced composition. Learners are &#13;
expected to acquire competency at each level in a progressive manner. Due to its &#13;
significant role in language acquisition, the teaching of writing requires instructors to &#13;
possess sound pedagogical competence, particularly in the application of effective and &#13;
creative instructional methods. Such competence enables educators to deliver writing &#13;
instruction in a more engaging and enjoyable way.One method that can be implemented &#13;
in teaching Arabic writing skills (maharah al-kitābah) is the use of language games (al&#13;
Alʿāb al-Lughawiyyah). In this context, language games refer to instructional activities &#13;
that actively involve learners, either through collaborative or competitive formats, and &#13;
take various playful forms designed to meet specific learning objectives. By incorporating &#13;
these games, teachers can present writing instruction in a more attractive and stimulating &#13;
manner, thereby reducing the likelihood of student disengagement or boredom during the &#13;
learning process.
</summary>
<dc:date>2014-04-18T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>GRAMATIKAL AL-QUR`AN: MENJAWAB TUDUHAN KESALAHAN GRAMATIKAL DALAM AL-QUR`AN</title>
<link href="https://digilib.iainptk.ac.id/xmlui/handle/123456789/9474" rel="alternate"/>
<author>
<name>Buhori, Buhori</name>
</author>
<id>https://digilib.iainptk.ac.id/xmlui/handle/123456789/9474</id>
<updated>2026-08-12T05:17:21Z</updated>
<published>0202-12-31T00:00:00Z</published>
<summary type="text">GRAMATIKAL AL-QUR`AN: MENJAWAB TUDUHAN KESALAHAN GRAMATIKAL DALAM AL-QUR`AN
Buhori, Buhori
Al-Qur`an merupakan kitab suci yang bersifat mu`jiz, tidak hanya dari segi kandungannya,&#13;
akan tetapi juga dari segi keindahan bahasa yang digunakan dan kefasihan tata bahasanya.&#13;
Al-Qur`an memberikan tantangan kepada orang-orang yang masih meragukannya untuk&#13;
membuat surat semisal yang ada dalam al-Qur`an.Sejak masa nabi Muhammad saw. sudah&#13;
ada kelompok yang memiliki kedengkian dan tidak menerima atas kesucian al-Qur`an.&#13;
Dewasa ini, kalangan non muslim kembali mencoba mencari kelemahan dan kesalahan dalam&#13;
al-Qur`an. Salah satu kesalahan yang mereka tuduhkan adalah kesalahan dalam aspek&#13;
gramatikal al-Qur`an. Kelemahan ini nantinya dijadikan sebagai argumentasi mereka yang&#13;
menyatakan bahwa al-Qur`an bukanlah kitab suci yang ma`shum (terjaga dari kesalahan), ia&#13;
bukan wahyu, namun semata hasil kreasi dari nabi Muhammad saw. Oleh sebab itu, dalam&#13;
tulisan ini, penulis akan menjawab tuduhan-tuduhan kesalahan gramatikal yang dialamatkan&#13;
pada kitab suci al-Qur`an.&#13;
Al-Qur`an merupakan kitab suci yang bersifat mu`jiz, tidak hanya dari segi kandungannya,&#13;
akan tetapi juga dari segi keindahan bahasa yang digunakan dan kefasihan tata bahasanya.&#13;
Al-Qur`an memberikan tantangan kepada orang-orang yang masih meragukannya untuk&#13;
membuat surat semisal yang ada dalam al-Qur`an.Sejak masa nabi Muhammad saw. sudah&#13;
ada kelompok yang memiliki kedengkian dan tidak menerima atas kesucian al-Qur`an.&#13;
Dewasa ini, kalangan non muslim kembali mencoba mencari kelemahan dan kesalahan dalam&#13;
al-Qur`an. Salah satu kesalahan yang mereka tuduhkan adalah kesalahan dalam aspek&#13;
gramatikal al-Qur`an. Kelemahan ini nantinya dijadikan sebagai argumentasi mereka yang&#13;
menyatakan bahwa al-Qur`an bukanlah kitab suci yang ma`shum (terjaga dari kesalahan), ia&#13;
bukan wahyu, namun semata hasil kreasi dari nabi Muhammad saw. Oleh sebab itu, dalam&#13;
tulisan ini, penulis akan menjawab tuduhan-tuduhan kesalahan gramatikal yang dialamatkan&#13;
pada kitab suci al-Qur`an.&#13;
Al-Qur`an merupakan kitab suci yang bersifat mu`jiz, tidak hanya dari segi kandungannya,&#13;
akan tetapi juga dari segi keindahan bahasa yang digunakan dan kefasihan tata bahasanya.&#13;
Al-Qur`an memberikan tantangan kepada orang-orang yang masih meragukannya untuk&#13;
membuat surat semisal yang ada dalam al-Qur`an.Sejak masa nabi Muhammad saw. sudah&#13;
ada kelompok yang memiliki kedengkian dan tidak menerima atas kesucian al-Qur`an.&#13;
Dewasa ini, kalangan non muslim kembali mencoba mencari kelemahan dan kesalahan dalam&#13;
al-Qur`an. Salah satu kesalahan yang mereka tuduhkan adalah kesalahan dalam aspek&#13;
gramatikal al-Qur`an. Kelemahan ini nantinya dijadikan sebagai argumentasi mereka yang&#13;
menyatakan bahwa al-Qur`an bukanlah kitab suci yang ma`shum (terjaga dari kesalahan), ia&#13;
bukan wahyu, namun semata hasil kreasi dari nabi Muhammad saw. Oleh sebab itu, dalam&#13;
tulisan ini, penulis akan menjawab tuduhan-tuduhan kesalahan gramatikal yang dialamatkan&#13;
pada kitab suci al-Qur`an
</summary>
<dc:date>0202-12-31T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>The Effectiveness of Assertive Training in Enhancing Self-Confidence  Through Sundrang Learning in Bugis Elementary Schools</title>
<link href="https://digilib.iainptk.ac.id/xmlui/handle/123456789/8820" rel="alternate"/>
<author>
<name>Usman, Usman</name>
</author>
<author>
<name>Ma'ruf, Ma'ruf</name>
</author>
<author>
<name>Putriana, Putriana</name>
</author>
<author>
<name>DKK, DKK</name>
</author>
<id>https://digilib.iainptk.ac.id/xmlui/handle/123456789/8820</id>
<updated>2026-06-05T03:33:48Z</updated>
<published>2026-03-31T00:00:00Z</published>
<summary type="text">The Effectiveness of Assertive Training in Enhancing Self-Confidence  Through Sundrang Learning in Bugis Elementary Schools
Usman, Usman; Ma'ruf, Ma'ruf; Putriana, Putriana; DKK, DKK
Self-confidence is a critical determinant of elementary students’ &#13;
learning success, particularly within culture-based contexts such as &#13;
Sundrang in Bugis communities. However, many students exhibit &#13;
low confidence in expressing opinions, participating in discussions, &#13;
and engaging in classroom interactions. Although assertive training &#13;
is known to enhance communication and confidence, its integration &#13;
into local cultural learning remains underexplored. This study &#13;
employed a quantitative quasi-experimental pretest–posttest control &#13;
group design. Sixty fifth-grade students from Bugis elementary &#13;
schools were assigned to an experimental group (n = 30) and a control &#13;
group (n = 30). The experimental group received assertive training &#13;
integrated into Sundrang learning, while the control group followed &#13;
conventional instruction. Data were collected using a validated and &#13;
reliable Likert-scale self-confidence questionnaire and analyzed &#13;
through normality, homogeneity, and independent-samples t-tests. &#13;
The findings revealed a statistically significant improvement in self&#13;
confidence among students in the experimental group compared to &#13;
the control group. Students exposed to assertive training &#13;
demonstrated greater gains in public speaking, social interaction, and &#13;
the ability to express opinions during Sundrang learning activities. &#13;
The results indicate that integrating assertive training into culture&#13;
based learning effectively enhances students’ self-confidence. This &#13;
approach supports not only communication skills but also active &#13;
participation in culturally relevant educational settings. Accordingly, &#13;
incorporating assertive training into elementary curricula, &#13;
particularly in local cultural learning contexts, is recommended to &#13;
foster students’ social competence and overall confidence.
</summary>
<dc:date>2026-03-31T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>ISTILAH DAN MAKNA AKTIVITAS MENGAJI  DALAM MASYARAKAT MELAYU DI MEMPAWAH</title>
<link href="https://digilib.iainptk.ac.id/xmlui/handle/123456789/8736" rel="alternate"/>
<author>
<name>Aditya, Farninda</name>
</author>
<id>https://digilib.iainptk.ac.id/xmlui/handle/123456789/8736</id>
<updated>2026-05-07T07:33:05Z</updated>
<published>2023-04-30T00:00:00Z</published>
<summary type="text">ISTILAH DAN MAKNA AKTIVITAS MENGAJI  DALAM MASYARAKAT MELAYU DI MEMPAWAH
Aditya, Farninda
Tulisan ini membahas tentang Istilah dan Makna Aktivitas &#13;
Mengaji dalam Masyarakat Melalyu Mempawah, Kalimantan &#13;
Barat. Istilah yang digunakan erat kaitanya dengan kegiatan &#13;
mengaji tradisional untuk menunjukan informasi bahasa yang &#13;
digunakan masyarakat setempat. Bahasa dalam aktivitas &#13;
Mengaji yang mulai memudar digunakan dalam masyarakat &#13;
dikarenakan jumlah guru tradisional yang merupakan orang &#13;
tua pelaku bahasa setempat sudah meninggal serta beralihnya &#13;
aktivitas belajar mengaji lebih modern. Tujuan dari tulisan ini &#13;
untuk mendata istilah dan makna aktivitas mengaji sebagai &#13;
dokumen bahasa Melayu di Mempawah. Penelitian ini adalah &#13;
Kualitatif dengan pendekatan Sosiolinguistik dengan teknik &#13;
pengumpulan wawancara, penyediaan data, analisis data &#13;
dengan teknik kajian pustaka. Penelitian ini menghasilkan 30 &#13;
istilah dan makna yang bersumber dari sumber bahasa; &#13;
bahasa Indonesia, Melayu, dan Arab serta bahasa tempatan &#13;
yang belum diketahui sumbernya. Istilah dan Makna dalam &#13;
Aktivitas memiliki persamaan makna namun beda bunyi &#13;
dengan mengalami perubahan bunyi dan asal sumber bahasa. &#13;
Istilah dan Makna tersebut memiliki kaitan dengan; &#13;
Perlengkapan, Adab, Petuah, dan Tingkatan Kemampuan &#13;
dalam Aktivitas Mengaji Masyarakat Melayu Mempawah.
</summary>
<dc:date>2023-04-30T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
</feed>
