<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<title>12. Karya Ilmiah Populer</title>
<link href="https://digilib.iainptk.ac.id/xmlui/handle/123456789/151" rel="alternate"/>
<subtitle>Terdiri dari artikel koran, majalah dan lainnya</subtitle>
<id>https://digilib.iainptk.ac.id/xmlui/handle/123456789/151</id>
<updated>2026-05-01T18:39:35Z</updated>
<dc:date>2026-05-01T18:39:35Z</dc:date>
<entry>
<title>ARTIKEL OPINI TIGA SAHABAT SERANGKAI PEJUANG KEMERDEKAAN INDONESIA</title>
<link href="https://digilib.iainptk.ac.id/xmlui/handle/123456789/8705" rel="alternate"/>
<author>
<name>Sabran, Ma'ruf Zahran</name>
</author>
<id>https://digilib.iainptk.ac.id/xmlui/handle/123456789/8705</id>
<updated>2026-04-28T08:04:20Z</updated>
<published>2026-04-28T00:00:00Z</published>
<summary type="text">ARTIKEL OPINI TIGA SAHABAT SERANGKAI PEJUANG KEMERDEKAAN INDONESIA
Sabran, Ma'ruf Zahran
BANGSA yang besar adalah bangsa yang sanggup menghargai jasa pahlawan. Indonesia &#13;
memiliki banyak pahlawan, dikenal atau tidak dikenal. Namun bakti mereka mengorbankan jiwa &#13;
dan harta, pasti dicatat Tuhan sebagai ibadah. Gugur dalam mempertahankan hak kemerdekaan &#13;
dinilai sebagai mati syahid yang akan ditempatkan di surga tanpa hisab (tanpa perhitungan) dan &#13;
tanpa hukuman. Dengan catatan, selama yang bersangkutan tidak memiliki hutang di dunia. &#13;
Kecuali ada keluarga atau ahli waris yang sanggup membayar hutangnya. &#13;
Sejarah Indonesia mencatat tiga sahabat serangkai perjuangan. Sama-sama berjuang &#13;
dengan pena, diplomasi dan perang urat saraf dengan penjajah Belanda, dan sama-sama &#13;
diasingkan. Kecerdasan, ketelitian, strategi, taktik perlu dimainkan dalam upaya memberikan &#13;
pukulan keras supaya Belanda tidak betah menjajah rakyat Indonesia. Tiga serangkai dimaksud &#13;
adalah:
</summary>
<dc:date>2026-04-28T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>ARTIKEL OPINI PERSPEKTIF PENDIDIKAN ETIS DALAM MEMAKNAI HARDIKNAS TAHUN 2026</title>
<link href="https://digilib.iainptk.ac.id/xmlui/handle/123456789/8704" rel="alternate"/>
<author>
<name>Sabran, Ma'ruf Zahran</name>
</author>
<id>https://digilib.iainptk.ac.id/xmlui/handle/123456789/8704</id>
<updated>2026-04-28T07:56:19Z</updated>
<published>2026-04-28T00:00:00Z</published>
<summary type="text">ARTIKEL OPINI PERSPEKTIF PENDIDIKAN ETIS DALAM MEMAKNAI HARDIKNAS TAHUN 2026
Sabran, Ma'ruf Zahran
JUDUL di atas terasa beda, ketika hampir semua sekolah mengukur prestasi siswa &#13;
dengan angka kuantitatif. Olimpiade Matematika, Olimpiade Sains dari tingkat Nasional sampai &#13;
Internasional. Olimpiade tidak salah, perlombaan tidak salah, prestasi tidak salah. Namun &#13;
pendidikan bukan perlombaan, pendidikan tidak sebatas prestasi. Banyak sekolah latah, seakan &#13;
pendidikan direduksi dengan capaian kognisi dengan alasan promosi sekolah. Promosi sekolah &#13;
akan berdampak langsung terhadap PPDB (Penerimaan Peserta Didik Baru) setiap awal tahun &#13;
pembelajaran. Jumlah peserta didik yang membludak melebihi kapasitas akan berpengaruh &#13;
terhadap kualitas. Kualitas tidak saja diukur dari kepatuhan menaati aturan sekolah. Masuk jam &#13;
07.00, pulang jam 16.00. Berseragam sekolah yang rapi, menyetor hapalan dan menyelesaikan &#13;
tugas tepat waktu. Tapi juga kesiapan mental siswa dan guru untuk secara aktif terlibat dalam &#13;
pembelajaran di kelas dan di luar kelas.
</summary>
<dc:date>2026-04-28T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>ARTIKEL OPINI NILAI IBADAH DALAM PERSPEKTIF GLOBALISASI</title>
<link href="https://digilib.iainptk.ac.id/xmlui/handle/123456789/8703" rel="alternate"/>
<author>
<name>Sabran, Ma'ruf Zahran</name>
</author>
<id>https://digilib.iainptk.ac.id/xmlui/handle/123456789/8703</id>
<updated>2026-04-28T07:48:19Z</updated>
<published>2026-04-28T00:00:00Z</published>
<summary type="text">ARTIKEL OPINI NILAI IBADAH DALAM PERSPEKTIF GLOBALISASI
Sabran, Ma'ruf Zahran
KEDATANGAN kiamat pasti. Jangan engkau meminta disegerakan datangnya. Apa &#13;
yang kita jalani setiap hari adalah tanda-tanda datangnya kiamat. Buktinya, hampir tidak &#13;
ditemukan orang yang mau mengalah dalam pembicaraan. Melainkan suka mengalahkan satu &#13;
sama lain. Adu domba, menghina, memfitnah menjadi ciri abad ini. Intinya mereka suka &#13;
berdebat dan bertengkar hingga datang tiupan sangkakala pertama dari dua tiupan. Hanya kiamat &#13;
yang mampu mengalahkan ego manusia. Ketika itu, hidup menyendiri lebih baik daripada &#13;
bergaul. Di tengah pergaulan global penuh intrik, makar jahat, sindikat pembabat hutan, kartel &#13;
narkoba dan penjualan organ manusia. &#13;
Ketaatan sudah mulai mencari "pangsa pasar yang tepat." Sebagaimana kejahatan juga &#13;
mencari panggung yang sesuai. Apa yang dahulu dikatakan jahat, hari ini bisa baik. Apa yang &#13;
dahulu disebut baik, hari ini berbalik jahat. Probabilitas terjadi sewaktu-waktu, bahkan dalam &#13;
hitungan detik. Karena dunia akan mengerucut bukan lagi blok timur atau barat, selatan atau &#13;
utara. Tapi iman atau kafir? Di semua tempat, di seluruh wilayah, menembus batas agama &#13;
formal, melintas identitas suku dan bangsa.
</summary>
<dc:date>2026-04-28T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>ARTIKEL OPINI HARMONI SEMESTA MENGANDUNG PESAN DAMAI PENDIDIKAN</title>
<link href="https://digilib.iainptk.ac.id/xmlui/handle/123456789/8702" rel="alternate"/>
<author>
<name>Sabran, Ma'ruf Zahran</name>
</author>
<id>https://digilib.iainptk.ac.id/xmlui/handle/123456789/8702</id>
<updated>2026-04-28T07:42:24Z</updated>
<published>2026-04-28T00:00:00Z</published>
<summary type="text">ARTIKEL OPINI HARMONI SEMESTA MENGANDUNG PESAN DAMAI PENDIDIKAN
Sabran, Ma'ruf Zahran
SIMPLE, bukan menyederhanakan masalah, tapi pendidikan memang sederhana. Berada &#13;
di alam terbuka, ruang penuh keceriaan, kebahagiaan, saling berbagi cerita, senyum dan tawa. &#13;
Bahkan kesediaan menertawakan diri merupakan trik belajar bahagia. Pembelajaran bermakna &#13;
belum masuk ke inti, jika belum melibatkan fisik dan mental. Meskipun lelucon atau joks &#13;
sederhana. Pendidikan berlisensi ialah saling menyapa bukan ketegangan. Ilmu pengetahuan &#13;
senyawa dengan kebahagiaan. Semakin bahagia seseorang, semakin banyak ia menyerap ilmu. &#13;
Karena penerimaan ilmu sangat erat hubungannya dengan hormon bahagia. Dijamin ilmu &#13;
tersebut akan tahan lama dan bermanfaat. &#13;
Tuhan sengaja membentang semesta sebagai sumber belajar. Supaya tidak ada sekat yang &#13;
dapat memenjarakan seseorang ke dalam kurungan keakuan tanpa sadar. Pendidikan seharusnya &#13;
membongkar sekat keilmuan, dan mengoyak selaput pengetahuan. Mengapa sekarang justru &#13;
pendidikan menstratifikasi masyarakat berkelas? Asasi pendidikan tidak demikian. Sejak &#13;
imperialisme dan kolonialisme pendidikan terbangun yang dibawa oleh penjajahan di awal abad &#13;
ke-18 Masehi, terbina kelas-kelas di masyarakat lagi tersekat. Sehingga lupa terhadap jati diri &#13;
sebagai rakyat. Esensial pendidikan ialah dari dan untuk rakyat.
</summary>
<dc:date>2026-04-28T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
</feed>
