| dc.description.abstract |
ANITA SAPITRI. NIM 12014039. Resiliensi Remaja Dengan Latar
Belakang Keluarga Broken Home Di Desa Pedalaman Kecamatan Tayan
Hilir Kabupaten Sanggau. Fakultas Ushuluddin dan Adab (FUSHA) Program
Studi Psikologi Islam (PI) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak,
2026.
Broken home adalah keadaan keluarga yang tidak utuh atau tidak
harmonis akibat perceraian, kematian salah satu orang tua, atau konflik
berkepanjangan yang menyebabkan terganggunya peran dan fungsi keluarga
dalam mendidik anak. Dalam kondisi seperti ini, anak-anak sering kali merasa
bingung, kesepian, dan tidak mendapat bimbingan yang mereka butuhkan
untuk menghadapi tantangan kehidupan. Kesehatan mental remaja yang
terpengaruh oleh perpisahan orang tua tidak bisa dibiarkan begitu saja,
beberapa di antaranya mungkin merespons dengan secara negatif, misalnya
berperilaku menyimpang. terlibat dalam perkelahian, atau menunjukkan
perilaku negatif lainnya. Sebaliknya, ada juga remaja yang menghadapinya
dengan cara yang lebih positif, seperti menjadikannya motivasi untuk meraih
prestasi atau menyalurkan emosi melalui kegiatan yang produktif.
Kemampuan untuk mengatasi tantangan dan pulih dari kondisi yang sulit ini
dikenal dengan istilah resiliensi. Resiliensi adalah dorongan internal yang
memungkinkan seseorang untuk bangkit dan menghadapi tantangan yang
dihadapi.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif
dengan metode studi kasus. Untuk mendapatkan data penelitian dengan
menggunkan teknik wawancara dan observasi. Teknik analisis data dilakukan
dengan memakai reduksi data, display data, setelah itu penarikan kesimpulan.
Jumlah subjek dalam penelitian ini adalah tiga orang dengan teknik
pengambilan sampel berdasarkan teknik purposive sampling.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiga subjek memiliki
kemampuan resiliensi yang tercermin melalui tujuh aspek, yaitu regulasi
emosi, pengendalian impuls, optimisme, self-efficacy, causal analysis,
empati, dan reaching out. Meskipun terdapat perbedaan tingkat dan cara
dalam menampilkan setiap aspek resiliensi, seluruh subjek mampu
beradaptasi secara positif terhadap kondisi keluarga yang dialami. Resiliensi
pada remaja broken home terbentuk melalui pengalaman hidup, karakteristik
individu, serta persepsi terhadap dukungan sosial. Penelitian ini
menyimpulkan bahwa kondisi keluarga broken home tidak selalu berdampak
negatif, melainkan dapat mendorong berkembangnya kemampuan adaptif
pada remaja. |
en_US |