RESILIENSI REMAJA DENGAN LATAR BELAKANG KELUARGA BROKEN HOME DI DESA PEDALAMAN KECAMATAN TAYAN HILIR KABUPATEN SANGGAU

Show simple item record

dc.contributor.advisor Kurnanto, Muhammad Edi
dc.contributor.advisor Amalia, Kiki
dc.contributor.advisor Syifa, Abdullah
dc.contributor.advisor Oktaviana, Sherli Kurnia
dc.contributor.author SAPITRI, ANITA
dc.date.accessioned 2026-02-20T06:20:24Z
dc.date.available 2026-02-20T06:20:24Z
dc.date.issued 2026-01-14
dc.identifier.citation APA en_US
dc.identifier.uri https://digilib.iainptk.ac.id/xmlui/handle/123456789/8508
dc.description.abstract ANITA SAPITRI. NIM 12014039. Resiliensi Remaja Dengan Latar Belakang Keluarga Broken Home Di Desa Pedalaman Kecamatan Tayan Hilir Kabupaten Sanggau. Fakultas Ushuluddin dan Adab (FUSHA) Program Studi Psikologi Islam (PI) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak, 2026. Broken home adalah keadaan keluarga yang tidak utuh atau tidak harmonis akibat perceraian, kematian salah satu orang tua, atau konflik berkepanjangan yang menyebabkan terganggunya peran dan fungsi keluarga dalam mendidik anak. Dalam kondisi seperti ini, anak-anak sering kali merasa bingung, kesepian, dan tidak mendapat bimbingan yang mereka butuhkan untuk menghadapi tantangan kehidupan. Kesehatan mental remaja yang terpengaruh oleh perpisahan orang tua tidak bisa dibiarkan begitu saja, beberapa di antaranya mungkin merespons dengan secara negatif, misalnya berperilaku menyimpang. terlibat dalam perkelahian, atau menunjukkan perilaku negatif lainnya. Sebaliknya, ada juga remaja yang menghadapinya dengan cara yang lebih positif, seperti menjadikannya motivasi untuk meraih prestasi atau menyalurkan emosi melalui kegiatan yang produktif. Kemampuan untuk mengatasi tantangan dan pulih dari kondisi yang sulit ini dikenal dengan istilah resiliensi. Resiliensi adalah dorongan internal yang memungkinkan seseorang untuk bangkit dan menghadapi tantangan yang dihadapi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan metode studi kasus. Untuk mendapatkan data penelitian dengan menggunkan teknik wawancara dan observasi. Teknik analisis data dilakukan dengan memakai reduksi data, display data, setelah itu penarikan kesimpulan. Jumlah subjek dalam penelitian ini adalah tiga orang dengan teknik pengambilan sampel berdasarkan teknik purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiga subjek memiliki kemampuan resiliensi yang tercermin melalui tujuh aspek, yaitu regulasi emosi, pengendalian impuls, optimisme, self-efficacy, causal analysis, empati, dan reaching out. Meskipun terdapat perbedaan tingkat dan cara dalam menampilkan setiap aspek resiliensi, seluruh subjek mampu beradaptasi secara positif terhadap kondisi keluarga yang dialami. Resiliensi pada remaja broken home terbentuk melalui pengalaman hidup, karakteristik individu, serta persepsi terhadap dukungan sosial. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kondisi keluarga broken home tidak selalu berdampak negatif, melainkan dapat mendorong berkembangnya kemampuan adaptif pada remaja. en_US
dc.language.iso id en_US
dc.publisher IAIN PONTIANAK en_US
dc.subject Remaja en_US
dc.subject Resiliensi en_US
dc.subject Broken Home en_US
dc.title RESILIENSI REMAJA DENGAN LATAR BELAKANG KELUARGA BROKEN HOME DI DESA PEDALAMAN KECAMATAN TAYAN HILIR KABUPATEN SANGGAU en_US
dc.type Skripsi en_US


Files in this item

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record

Search


Advanced Search

Browse

My Account