Abstract:
Maghfirah, “Café ½ Kopi Tiam Sebagai wadah Belajar Kemandirian Bagi Penyandang Disabilitas: Perspektif Pendidikan Islam Inklusif”. Skripsi. Pontianak, Program Studi Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Institut Agama Islam Negeri Pontianak, 2025.
Tujuan penelitian ini untuk menjelaskan bagaimana pelaksanaan program pelatihan di Café ½ Kopi Tiam sebagai model pendidikan inklusif dalam mendukung kemandirian penyandang disabilitas dalam perspektif pendidikan Islam inklusif, dengan sub pembahasan sebagai berikut: Pertama, mendeskripsikan bagaimana cara Café ½ Kopi Tiam menanamkan pemahaman tentang perbedaan sebagai sunnatullah; kedua, mendeskripsikan bagaimana pelatihan di Café ½ Tiam yang memberikan kesempatan setara dan menghargai keunikan setiap individu sesuai dengan semangat pluralisme; ketiga, mendeskripsikan bagaimana proses evaluasi perkembangan peserta di Café ½ Kopi Tiam yang menghormati perbedaan potensi dan menumbuhkan sikap toleransi.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian lapangan (field research). Data dikumpulkan melalui wawancara semi terstruktur dan mendalam, observasi non partisipan, dan dokumentasi. Di sisi lain, teknik analisis data yang digunakan adalah kondensasi, penyajian, dan penarikan kesimpulan. Peneliti menggunakan triangulasi, member check, dan diskusi teman sejawat untuk memastikan data adalah valid.
Hasil penelitian menunjukkan pelaksanaan kemandirian di Café ½ Kopi Tiam telah mencerminkan nilai-nilai pendidikan Islam inklusif. Pertama, perbedaan sebagai sunnatullah diterapkan dengan menerima peserta penyandang disabilitas tanpa stigma atau diskriminasi. Setiap peserta didampingi sesuai kemampuan dan kebutuhan, sehingga dapat belajar mandiri dan berkembang dengan baik; kedua, semangat pluralisme terlihat dari kesempatan yang sama bagi semua peserta untuk mengikuti pelatihan dan praktik langsung, tanpa memandang kondisi fisik mental, atau latar belakang sosial. Pelatihan berbasis kerja tim menekankan kesetaraan, sesuai ajaran Islam bahwa kemuliaan manusia ditentukan oleh iman dan takwa, bukan penampilan fisik; ketiga, toleransi diwujudkan melalui sikap saling menghargai dan menciptakan lingkungan belajar yang aman, ramah, serta bebas diskriminasi. Semua peserta mendapat ruang komunikasi serta kesempatan berpartisipasi yang setara. Sehingga nilai toleransi diterapkan secara nyata dalam kegiatan sehari-hari.