| dc.description.abstract |
RIZAL KURNIADI (12101094), Pendidikan Akhlak Perspektif Ibnu ‘Atha’illah as-sakandari Dalam Kitab Al Hikam. Skripsi. Pontianak. Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, Program Studi Pendidikan Agama Islam, Institut Agama Islam Negeri Pontianak, 2025.
Penelitian ini didasari oleh kemerosotan nilai-nilai akhlak di tengah kehidupan modern yang semakin materialistis dimana manusia selalu ingin mengejar dunia sehingga menyebabkan kerusakan di muka bumi. Salah satu nilai akhlak penting yang relevan untuk dikaji dalam kasus ini adalah akhlak zuhud, yaitu sikap tidak menggantungkan hati kepada dunia. Peneliti tertarik mengkaji akhlak zuhud ini dari Kitab karangan salah satu ulama terkenal yaitu Ibnu ‘Atha’illah as-Sakandari dalam kitabnya Al-Hikam. Penelitian ini akan membahas bagaimana proses pembentukan pemikiran Ibnu ‘Atha’illah dan bagaimana konsep zuhud menurut Ibnu ‘Atha’illah.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana Proses Pembentukan Pemikiran Ibnu ‘Atha’illah al-Sakandari serta agar kita mengetahui Pendidikan Akhlak Zuhud pada Hikmah ke-2 dalam Kitab Al-Hikam Perspektif Ibnu ‘Atha’illah al Sakandari
Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan (library research). Sumber data utama berasal dari Kitab al-Hikam karya Ibnu ‘Atha’illah beserta kitab syarah dan buku-buku pendukung yang relevan yaitu, Ensikplodi Tasawuf dan beberapa literatur pendukung lainnya. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui dokumentasi, sedangkan analisis data menggunakan metode deskriptif-analitis.
Hasil penelitian ini menunjukkan Perjalanan pemikiran Ibnu Athaillah mencakup tiga fase. Pertama, masa pendidikan ilmu-ilmu zahir yang membentuk pola pikir rasional. Kedua, fase transformasi spiritual bersama Syaikh Abu al-‘Abbas al-Mursi yang mengarah pada ma‘rifah dan pendalaman batin. Ketiga, fase kematangan intelektual ketika ia memadukan syariat dan tasawuf, menghasilkan karya-karya besar, dan menjadi guru serta mursyid Syadziliyah hingga akhir hayatnya. Ibnu ‘Atha’illah menekankan bahwa Zuhud bukan meninggalkan dunia secara fisik, tetapi mengosongkan hati dari ketergantungan kepada dunia. Dengan kata lain, zuhud berarti menjadikan dunia ditangan bukan di hati. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi untuk memperluas dan memahami arti zuhud khususnya dalam pendidikan akhlak. |
en_US |